Peringatan 18 Tahun Syahidnya Abdullah Azzam
24 November, 18 tahun Islam. Seorang tokoh pejuang Islam menghadap Allah swt
dengan begitu indahnya. Syaikh Abdullah Azzam, siapa yang tidak pernah
mendengar nama itu? Hampir setiap Muslim yang memperhatikan kondisi dunia Islam
di tahun 80-an pasti mengenal nama dan sosok Abdullah Azzam dengan baik.
Dia adalah simbol jihad Afganistan saat mengusir pasukan beruang merah Rusia.
Dan kini, hampir 18 tahun berlalu, namanya masih lekat dikenang dalam hati para
pejuang Islam di dunia. Meski, label gembong teroris juga dikaitkan dengan
namanya, namun siapapun yang mengetahui kondisi perjuangan jihad Afganistan
ketika itu, tak pernah terbetik sedikitpun bahwa Abdullah Azzam adalah seorang
teroris. Bahkan sebaliknya, ia adalah pejuang sejati yang begitu tinggi kasih
sayangnya kepada kaum Muslimin.
Beberapa waktu lalu, sejumlah tokoh mengingatkan tentang peringatan syahidnya
tokoh jihad Afganistan itu. Salah seorang muridnya yang kini tinggal di Mesir,
bercerita tentang Abdullah Azzam, saat beliau sedang melakukan perkemahan. Pada
suatu acara semua yang mengikuti mukhayyam itu di perintahkan oleh komandan
lapangan. "Kalian berlarilah mengelilingi lapangan ini sebanyak yang kalian
bisa," ujar komandan lapangan.
Semua peserta perkemahan berlari. Namun setelah beberapa putaran, sudah ada
yang menyerah, dan mereka yang menyerah beralasan bahwa "Allah tidak akan
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (2: 286), inilah
yang saya mampu",
Begitu pula orang-orang yang menyerah selanjutnya, mereka selalu beralasan
dengan ayat ke 286 di surat Al-Baqarah tersebut, dan yang sisa pun semakin
banyak yang menyerah, sampai tinggal Abdullah Azzam sendiri, beliau terus
berlari mengelilingi lapangan tersebut, sampai akhirnya beliau pingsan.
Dan setelah sadar beliau ditanya oleh komandan lapangan " Mengapa anda berlari
sampai pingsan begini, kan sudah saya bilang bahwa anda berlari semampu anda",
lalu Abdullah Azzam menjawab "inilah yang saya mampu, sesuai yang anda
perintahkan"
Yang dimaksud oleh Abdullah Azzam adalah makna sebenarnya dari "Allah tidak
akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya", bahwa
perintah harus dijalankan sesuai isinya. Di sisi lain, upaya apapun harus
dilakukan dengan upaya yang optimal di batas kemampuan seseorang. Itulah salah
satu pelajaran yang diberikan Abdullah Azzam.
Komitmen Kuat Berjihad
Abdullah Azzam dilahirkan di sebuah kampung di Utara Palestina yang dikenal
sebagai Selat al-Harithia di daerah Genine pada tahun 1941. Ayahnya bernama
Mustaffa yang meninggal dunia setahun selepas pembunuhan anaknya. Ibunya
bernama Zakia Saleh yang meninggal dunia setahun sebelum Sheikh Abdullah Azzam
dibunuh.
Abdullah Azzam berasal dari keluarga yang baik latar-belakang keagamaannya.
Keluarganya gembira mempunyai anak lelaki, Abdullah Yusuf Azzam, yang sudah
terlihat istimewa di kalangan kanak-kanak lain dan telah aktif berdakwah pada
usia yang muda. Rekan-rekannya mengenali Azzam sebagai seorang yang wara dan
sangat hati hati dengan dosa. Ia menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan pada
usia muda. Guru-gurunya melihat keistimewaan ini sejak Azzam masih duduk di
bangku sekolah. Abdullah Azzam masuk dalam organisasi al-Ikhwan-ul-Muslimin
sebelum mencapai usia baligh.
Sheikh Abdullah Azzam telah dikenal karena ketabahan dan sifatnya yang sungguh
sungguh sejak kecil. Ia menerima pendidikan awal peringkat sekolah dasar dan
menengah di kampung sebelum meneruskan pendidikan di College Pertanian Khadorri
sampai tingkat Diploma. Walau merupakan pelajar termuda di kalangan
teman-temannya, Abdullah Azzam adalah murid yang paling cerdas. Setelah
menamatkan pendidikan di College Khadorri ia bekerja sebagai seorang guru di
sebuah kampung bernama Adder di Selatan Jordan. Kemudian beliau meneruskan
pendidikan di college Shariah di universitas Damaskus sehingga memperoleh
Ijazah B.A. dalam Shariah pada 1966. Setelah pihak Yahudi mendudduki Tepi Barat
pada tahun 1967, Abdullah Azzam muda hijrah ke Jordan, karena ia tidak mau
tinggal di bawah penjajahan Yahudi di Palestina. Pengalaman melihat tank-tank
Israel bergerak masuk ke Tepi Barat tanpa ada hambatan meningkatkan tekadnya
untuk hijrah dan belajar mendapatkan kemampuan untuk perang.
Tahun 1960-an ia ikut dalam Jihad menentang penjajahan Israel di Palestina dari
Jordan. Ketika itu juga ia menerima Ijazah Master di dalam bidang Shariah dari
Unversitas al-Azhar. Pada tahun 1970 sesudah Jihad terhenti karena kekuatan PLO
dipaksa keluar dari Jordan, Abdullah Azzam menjadi seorang pensyarah di
universitas Jordanian di Amman. Pada tahun 1971 ia dianugerahkan biasiswa ke
Universitas al-Azhar di Kairo sampai ia memperoleh Ijazah doktor di dalam
bidang Ushul al-Fiqh pada 1973. Ketika di Mesir itulah, ia telah berkenalan
dengan keluarga Sayid Quthb, keluarga tokoh perjuangan Islam di Mesir.
Pada tahun 1979 ia meniggalkan universitas berpindah ke Pakistan untuk ikut
serta dalam Jihad Afghanistan. Di sana ia berkenalan dengan pemimpin-pemimpin
Jihad. Awal kedatangannya di Pakistan, ia dilantik sebagai pensyarah di
universitas Islam internasional di Islamabad. Setelah beberapa waktu lamanya,
kemudian beliau mengambil keputusan untuk berhenti dari tugas universitas untuk
memfokuskan seluruh waktu dan tenaganya kepada Jihad di Afghanistan.
Abdullah Azzam sangat banyak dipengaruhi oleh Jihad di Afghanistan dan Jihad di
Afghanistan juga sangat banyak dipengaruhi Abdullah Azzam sejak beliau
memfokuskan seluruh waktunya untuk Jihad. Ia menjadi seorang yang disegani di
arena Jihad Afghanistan. Ia menumpahkan seluruh daya usaha untuk menyebarkan
dan mengenalkan Jihad di Afghanistan ke seluruh dunia. Ia mengubah pandangan
umat Islam tentang Jihad di Afghanistan dan menyadarkan bahwa Jihad adalah
tuntutan Islam yang menjadi tanggung jawab semua umat Islam di seluruh dunia.
Berkat hasil usahanya, Jihad Afghan menjadi Jihad universal yang diikuti oleh
umat Islam dari berbagai pelosok dunia.
Abdullah Azzam bahkan menjadi idola generasi muda yang menyahut seruan Jihad.
Pernah ia berkata, "Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun, 7 setengah tahun di
Jihad Afghan, satu setengah tahun di Jihad Palestina dan tahun-tahun yang
selebihnya tidak bernilai apa-apa."
Ia juga melatih keluarganya dengan pemahaman dan semangat yang sama. Isterinya
terlibat dengan kegiatan penjagaan anak-anak yatim di Afganistán. Ia sendiri
menolak tawaran pekerjaan sebagai pensyarah dari beberapa buah universitas
sambil berikrar bahwa ia tidak akan meninggalkan Jihad sehingga gugur syahid.
Ia juga selalu mengatakan bahwa tujuan utama dan cita-citanya adalah untuk
membebaskan Palestina.
Terbunuh Saat Hendak Sholat Jumat
Tentu saja komitmen yang begitu tinggi pada Islam menimbulkan keresahan di
kalangan musuh-musuh Islam. Mereka bersekongkol untuk membunuh beliau. Pada
tahun 1989, sebuah bom diletakkan di bawah mimbar yang ia gunakan untuk
menyampaikan khutbah Jumat. Bahan letupan itu sangat berbahaya dan ledakannya
akan memusnahkan masjid tersebut bersama dengan semua benda dan jamaah di
dalamnya. Tetapi dengan perlindungan Allah, bom tersebut tidak meledak dan
ratusan orang Islam selamat.
Musuh-musuh Islam terus berupaya membunuh Abdullah Azzam. Pada hari Jum'at, 24
November 1989 di Peshawar, Pakistan, mereka telah menanam tiga buah bom di
jalan yang sempit. Abdullah Azzam memarkirkan mobilnya di posisi bom pertama
dan kemudian berjalan ke masjid untuk shalat Jum'at. Bom pun meledak dan
Abdullah Azzam gugur bersama dengan dua orang anak lelakinya, Muhammad dan
Ibrahim, beserta dengan anak lelaki al-marhum Sheikh Tamim Adnani (pejuang di
Afghan).
Ledakan bom seberat 20kg TNT dilakukan dengan alat kontrol jarak jauh. Setelah
ledakan kuat itu itu orang-orang keluar dari masjid dan melihat keadaan yang
mengerikan. Hanya bahagian kecil dari mobil tersebut yang kelihatan. Anak
Abdullah Azzam, Ibrahim, terpental 100 meter; begitu juga dengan dua orang
anak-anak lagi. Serpihan mayat mereka bertaburan di atas kabel-kabel listrik.
Tubuh Abdullah Azzam ditemukan bersandar pada sebuah tembok, dalam keadaan
sempurna dan tiada luka atau cedera kecuali sedikit darah yang mengalir dari
bibirnya. Seperti itulah akhir kehidupan seorang Mujahid di dunia ini dan
insya-Allah kehidupannya akan terus berlanjut di sisi Allah swt.Abdullah Azzam
dikebumikan di Tanah Perkuburan Shuhada Pabi di mana beliau menyertai ribuan
para syuhada.
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya)," - Al-Ahzab,33:23
Tuesday, December 19, 2006
Dr. Abdullah Yusuf Azzam
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment